Agen Intelijen di ITB

Setelah Orde Lama tumbang, mahasiswa sebenarnya sudah mencanangkan gerakan back to campus. Tapi kemudian Orde Baru yang di-back up militer perlahan menjadi otoriter. Ini sebenarnya ironis, bulan madu mahasiswa dan Orde Baru – militer berakhir.

Tahun 1970 aparat dibantu taruna Akpol mengadakan razia rambut gondrong. Mahasiswa ITB memprotes karena rambut gondrong adalah hak azazi manusia. Ada upaya untuk mendamaikan dengan meredakan suasana panas melalui  pertandingan sepak bola  persahabatan di kampus antara mahasiswa ITB dan taruna Akpol. Pertandingan ricuh, kemungkinan karena mahasiswa ITB terlalu kreatif dalam membuat yel-yel. Setelah pertandingan usai terjadilah insiden tertembaknya seorang mahasiswa ITB, Rene L. Conraad, yang justru tidak tahu menahu tentang pertandingan bola barusan.

Gerakan mahasiswa kembali bergulir. Isu yang diangkat antara lain adalah peran militer yang kebablasan, kesenjangan sosial,  pemborosan uang negara serta banjirnya modal asing.  Agustus 1973 sempat terjadi kerusuhan yang berbau rasial di Bandung.  15 Januari 1974 demonstrasi mahasiswa di Jakarta dalam rangka menyambut kedatangan PM Jepang berujung kerusuhan. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai  Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari). Sebenarnya mahasiswa Bandung tidak ikut dalam demonstrasi ini, tapi mengadakan demo di Bandung dengan tuntutan Tritura 74: 1. Bubarkan Asisten Pribadi Presiden, 2. Turunkan Harga, 3. Tolak Modal Asing.

Tahun 1976, mahasiswa ITB menggulirkan Gerakan Anti Kebodohan (GAK), yakni tuntutan agar pemerintah merealisasikan anggaran pendidikan dan wajib belajar 6 tahun. 27-28 Oktober 1977 Dewan/Senat mahasiswa seindonesia berkumpul di ITB menyatakan keprihatinan atas kondisi bangsa. 16 Januari 1978, Mahasiswa ITB meluncurkan Buku Putih dengan pernyataan sikap: Tidak mempercayai dan tidak menghendaki Soeharto menjadi presiden.

ITB dinilai pemerintah terlalu panas, sehingga perlu dipadamkan militer. Terjadi 2 kali agresi militer. Agresi kedua menduduki kampus selama 6 bulan. Dewan Mahasiswa di seluruh Indonesia dibubarkan. Inilah NKK-BKK, Normalisasi Kehidupan kampus – Badan Koordinasi Kemahasiswaan.

Gerakan mahasiswa ITB kemudian diestafetkan ke dalam himpunan-himpunan jurusan. Idealisme tetap jalan, sayangnya berefek negatif sampai sekarang: Chauvinisme masing-masing jurusan. 5 Agustus 1989 terjadi lagi insiden demonstratsi di ITB. Kedatangan Menteri Dalam Negeri waktu itu, Rudini, disambut, eh disambit lemparan telur.

OK, ambil nafas dulu. Ringkasnya dengan  track record ITB seperti di atas, pemerintah perlu mengawasi gerakan-gerakan mahasiswa dengan memakai intel. Modus penempatan intel  bisa melalui perekrutan mahasiswa yang bisa dipengaruhi , penempatan tugas belajar pegawai pemerintah di ITB atau  penyamaran.

Ngomong-ngomong masalah intel, ada issue yang sampai sekarang belum clear. Adalah seorang wanita setengah baya  sakit jiwa yang berkeliaran di ITB. Namanya Dona. Semua mahasiswa ITB pasti mengenalnya. Ada yang meduga bahwa ia adalah intel pemerintah yang memonitor gerakan mahasiswa ITB. Bahkan ada yang mengissuekan kalau dia adalah agen CIA yang bertugas mengawasi kalau-kalau ada anak ITB yang kelewat cerdas dan bisa membahayakan Amerika….Sebenarnya ini masuk dalam area interest-ku. Tapi sampai sekarang aku belum pernah sempat untuk membuat investigasi kasus Dona ini….

 

Referensi: http://haniefadrian.blogsome.com/2008/08/12/sejarah-kemahasiswaan-itb-versi-gua/

Kredit Foto: Twitter (@donaitb)

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Mahasiswa Zimbabwe

Hari itu hari pertamaku Kerja Praktik (KP) di Pertamina Penelitian dan Laboratorium (P&L), Pulogadung – Jakarta. Kalau di universitas lain ada KKN, di ITB ada KP. Karena belum tahu jalan ke P&L, dari terminal Pulogadung aku naik ojek.

Saya: “Bang, ke Pertamina Pulogadung berapa?”

Tukang Ojek: “Goceng, Mas.”

Saya tidak terlalu paham istilah duit dalam bahasa Kokoh-Enci, memang sering denger, ada goceng, ceban, noban, dst, tapi tidak pernah dihafalkan dan dipakai.

Saya: “Emang goceng berapa, Bang?”

Tukang Ojek: “Dua puluh ribu!”

Saya: “Biasanya lima ribu, Bang!” (soalnya pembimbing KP ku ngasih ancer-ancer kalau naik ojek dari terminal ya lima ribu).

Tukang Ojek: “Ya emang lima ribu, Mas! Masa goceng kagak tau!”

Saya: “Ok Bang.” (dalam hati: sialan nih dikerjain sama tukang ojek, harus bales ngerjain nih)

Di tengah jalan…

Saya: “Sorry, Bang, gak tau istilah goceng, soalnya baru pulang dari luar negeri…”

Tukang Ojek: “Emang dari mana, Mas?” (bertanya dengan serius sekali)

Saya: “Zimbabwe, Bang.”

Tukang Ojek: “Di mana tuh, Mas?” (masih serius)

Saya: “Afrika.”

Tukang Ojek: “Emang pakai bahasa apa di sana? Inggris?” (masih antusias)

Saya: “Bukan, Bang, bahasa afrika.”

Dan dialog kami berhenti karena sudah sampai di gerbang P&L.

OK, sekarang aku ceritakan kegiatanku selama 2 bulan KP.  Aku memang sengaja memilih tempat KP yang bisa melatihku menjadi Mac Gyver. Berdasarkan informasi pak Wisnu, Pertamina P&L sedang gencar melakukan penelitian refrigeran hidrokarbon sebagai pengganti CFC dan HCFC. Nah aku sangat tertarik dengan kegiatan campur-mencampur zat atau rakit-merakit alat, skill yang mesti dimiliki Mac Gyver. Kebetulan di sana ada anak FT yang sudah menjadi manager, sehingga tinggal kontak-kontakan untuk mendapat alokasi KP.

Di hari pertama KP, aku langsung diberi kesempatan orientasi P&L. Pembimbing KP ku meminta Kepala Teknik P&L (untuk selanjutnya kita sebut KT) untuk mendapingiku orentasi. Mungkin karena dapat informasi a aku dari ITB, Kepala Teknik itu melakukan test terselubung kepadaku untuk menguji: Benarkah ini mahasiswa ITB atau mahasiswa Zimbabwe?  (agar tidak bingung asumsikan saja saya Mahasiswa Zimbabwe, MZ).

Sewaktu di workshop, dia menunjukkanku refrigerant testing bed . Dan test pun dimulai…

KT: “Ini testing bed untuk nguji refrigerant yang kita buat. Sensor tekanannya memang lagi ngaco. Coba kamu tandain pipa discharge dan suction-nya!” ( Arti lugasnya adalah kamu tau nggak mana pipa tekanan tinggi sama tekanan rendah?)

MZ: “Discharge pipa yang kecil ini, Pak, kalau suction yang besar itu.” (Kita bisa membedakannya dari diameter pipa.  Pipa tekanan tinggi pasti memakai pipa yang lebih kecil diameternya. Ingat rumus P = F/A. Semakin kecil area tekan semakin besar tekanan. Untuk beberapa kompressor kita bisa merunut pipanya, di kompressor tekanan tinggi ditandai dengan huruf (D) Dischaege dan tekanan rendah (S) Suction).

KT: “OK, sekarang suhu ambien lagi panas-panasnya. Kalu kita operasikan testing bed ini, kira-kira apa efeknya bagi kompressor?” (Arti lugasnya kamu paham termodinamika nggak?)

MZ:  “Kurang lebih suhu kondensernya kan menjadi lebih tinggi Pak, jadi tekanannya juga lebih tinggi juga, jadi kerja kompressor lebih berat dong Pak.” (untuk menjawab pertanyaan ini, kita Cuma perlu ingat persamaan gas ideal. PV = nRT. Jadi tekanan (P) berbanding lurus dengan temperatur (T)).

Dan MZ lolos ujian KT. Kemudian MZ dan KT menjalin hubungan mentor – murid yang sangat baik sampai sekarang.

Selama dua bulan di P&L, aku belajar membuat dan menangani  refrigeran hidrokarbon. Ya hidrokarbon memang bisa menjadi refrigeran pengganti CFC dan HCFC (kita sering mengenalnya sebagai freon, padahal freon adalah merk dagang). Sebenernya istilah tepatnya bukan refrigeran pengganti, sebab secara historis justru hidrokarbon lebih dahulu menjadi refrigeran. Kemudian masyarakat membuat sintetisnya yang tidak flammable. Sayang meski refrigeran sintetis ini tidak flammble, kemudian orang mengetahui zat ini berefek buruk terhadap lingkungan karena efek gas rumah kaca yang ditimbulkannya. Maka orang kemudian berpaling lagi kepada hidrokarbon. Jadi dalam keadaan darurat, misalnya kamu lagi di Zimbabwe dan AC mobil kamu kehabisan refrigeran di tengah jalan, dan kamu kesulitan menemukan freon, kamu bisa pakai gas LPG. Karena LPG itu hidrokarbon capuran propana dan butana yang thermophysic-nya mirip freon AC mobilmu!

Sumber Gambar: Benny & Mice

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Don’t Judge A Fruit by Its Rind

Kita mengenal adagium don’t judge a book by its cover, tapi anak Teknik Fisika, khususnya anak Lab Ultrasonik, mengenal adagium don’t judge a fruit by its rind. Umumnya kita memilih-milih buah-buahan secara manual dengan menggunakan tanda-tanda visual seperti warna buah. Untuk beberapa buah, mudah, tapi ada beberapa buah yan sulit dinilai berdasarkan warna kulitnya, contohnya manggis dan durian. Hasil evaluasi visual yang hanya menilai sifat fisik bagian luar tersebut tidak selalu mencerminkan tingkat kematangan dan kerusakan bagian dalam buah.

Ada cara mengevaluasi mutu bagian dalam buah secara fisik, yakni dengan membelahnya. Tapi ini merusak. Evaluasi secara kimia juga bisa dilakukan, misal dengan menggunakan kimia basah (HPLC). Tapi ini juga merusak. Nah anak Teknik Fisika punya cara sendiri untuk menilai buah tanpa merusak, yakni dengan menggunakan metode ultrasonik.

Teorinya nilai kecepatan gelombang ultrasonik yang merambat melalui buah berbeda-beda untuk tiap tingkat kematangan. Ambil saja kasus buah manggis. Hasil penelitian seorang mahasiswa Teknik Fisika, berdasarkan hasil kalibrasi beberapa buah manggis (80 buah), buah manggis yang masih mentah mempunyai kecepatan gelombang ultrasonik rata-rata 337.4 m/s, untuk buah setengah matang 369.1 m/s, buah matang 397.4 m/s, serta untuk buah kelewat matang mempunyai nilai kecepatan rata-rata 449.6 mis.

Nilai kecepatan rata-rata gelombang ultrasonik yang merambat pada tiap tingkat kematangan buah digunakan untuk membuat suatu persamaan empiris. Persamaan ini menghubungkan tingkat kematangan terhadap kecepatan gelombang ultrasonik. Untuk manggis persamaan empirisnya Tk = 0.0268 V 7.9258. Persamaan empiris yang diperoleh tersebut diuji dengan pengukuran kecepatan pada berbagai kondisi buah dengan warna visual yang beraneka ragam. Berdasarkan basil uji coba 100 buah manggis, diperoleh perbedaan perkiraan kematangan antara ultrasonik dan warna kulit. Perbedaan tersebut mencapai 21%. Hal ini menunjukkan bahwa warna kulit belum tentu mencerminkan tingkat kematangan dan kerusakan bagian dalam buah! Seperti yang saya bilang di atas, Don’t Judge A Fruit by Its Rind!

Referensi: Sudianto, Dadi (2007). Pengembangan Metode Pengukuran Tingkat Kematangan Buah Manggis dengan Ultrasonik. Bandung: Departemen Teknik Fisika ITB

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Mesin atau Engine?

Machine is a device consisting of fixed and moving parts that modifies mechanical energy and transmits it in a more useful form. (The American Heritage Dictionary of the English Language)

Malam menjelang ujian Tugas Akhir/TA (di tempat lain bernama Skripsi), pak Wisnu, pembimbing utamaku, mengajak membuat simulasi ujian TA. Seusai simulasi presentasi, beliau mengajukan beberapa pertanyaan terkait penelitianku. Atas jawaban-jawabanku, beliau hanya berkomentar, “jawabanmu kurang meyakinkan, karena di setiap menjawab, Kamu memakai kata saya kira, seharusnya Kamu memakai kata saya pikir atau menurut pendapat saya”.

Nasihat beliau itu saya ingat sampai sekarang. Menurut pendapat saya (tuh kan saya pakai), selama penyusunan TA, pak Wisnu lebih banyak memberikan bimbingan yang bersifat general filosofis, seperti metodologi dan cara penulisan laporan, dari pada bimbingan yang bersifat teknis. Hal-hal yang bersifat teknis diserahkan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa lebih banyak belajar bereksplorasi lebih banyak. Beliau sering menekankan bahwa TA/skripsi itu adalah proses mahasiswa belajar menyusun laporan penelitian ilmiah. Jadi yang diutamakan bukan pada penemuan sesuatu yang baru, tetapi pada metodologi penelitian yang benar. Berbeda dengan Tesis dan Disertasi.

Saya berikan contoh bagaimana beliau membimbing penulisan laporan TA. Di dalam draft laporan, saya sering tidak konsisten dalam menuliskan satu istilah, kadang saya menulis unit refrigerator, kadang sistem refrigerator, kadang mesin refrigerator. Atas ketidakkonsistenan penulisan itu, beliau mengoreksi dengan pertanyaan, “Kamu tahu bedanya unit, sistem dan mesin?” Jawaban saya berbelit-belit. Beliau memberi clue dengan pertanyaan lagi, “apa bedanya mesin sama engine?”

Saya menjawab engine dulu karena ini sering disebut di termodinamika, “engine itu sistem/peralatan yang menghasilkan energi gerak dari pembakaran,” diam sebentar, “ kalau mesin itu hmmm …”

Pak Wisnu akhirnya membantu, “kalau engine merubah energi panas menjadi energi gerak, kalau mesin merubah energi nasi menjadi energi gerak! Contohnya mesik ketik, mesin jahit…”

Saya nyengir, “OK, Pak, saya kira (ini sebelum simulasi ujian TA lho…) saya lebih tepat memakai kata ‘unit refrigerator’.

Dengan sistem bimbingan seperti itu, kecepatan penyelesaian TA sangat tergantung pada mahasiswa itu sendiri. Contohnya saya, saya mengambil TA selama 3 semester. 2 semester lebih saya sia-siakan dengan alasan sulitnya mencari referensi terkait topik penelitian saya dan sibuknya aktifitas di luar kampus (saya waktu itu tergoda untuk kuliah bahasa arab di suatu kampus swasta, calon agen intelijen mesti menguasai banyak bahasa). Sampai kemudian pak Wisnu menegur saya kenapa saya tidak pernah nongkrong/nginep di Lab lagi. Setelah teguran itu, saya menyelesaikan TA dalam waktu sekitar 3 bulan!

Ya, saya sangat berhutang budi kepada beliau, beliau banyak menanamkan cara berpikir ilmiah dan karakter seorang insinyur. Mungkin juga karakter seorang agen intelijen….

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Tukang Nasi Goreng FT

Jam 11 malam. Bandung dingin seperti biasanya. Ternyata aku lupa belum makan malam. Warung sudah pada tutup, yang ada tinggal tukang nasi goreng keliling yang sedang mangkal tak jauh dari asramaku.

“Mas, pesen 1 dibungkus.”

“Siap, Mas.”

“O, iya, Mas, telurnya dua, 1 dimasukkan ke nasi, 1 digoreng aja.”

“Didadar atau diceplok, mas?”

“Didadar aja.”

Sambil menunggu ia memasak, aku mengajaknya mengobrol.

“Asli mana, Mas?” Aku memulai pembicaraan meski aku sudah tahu dari logatnya kalau dia dari Tegal. Dan memang tukang nasi goreng di Bandung kan sebagian besar dari Tegal.

“Tegal, Mas.”

“Di sini tinggal di mana?”

“Di belakang Polman, Mas.”

“Sudah berkeluarga?”

“Sudah, Mas. Malah sudah punya anak 1.”

“Istri kerja?”

“Di rumah aja, Mas. Anak masih kecil, nggak bisa dibawa kerja.”

Waktu dia mau membungkus nasi goreng, aku menyela, “makan di sini aja, Mas.”

Sambil makan, aku tetap mengajaknya ngobrol.

“Nggak dingin, Mas? Nggak pakai jaket?” tanyaku.

“Dingin sih Mas, jaket cuman 1, kemarin kehujanan belum kering.”

“Mau jaket, Mas? Kalau mau aku kasih jaket.” Tanpa pikir panjang aku menawarkan, padahal aku juga punya 1 jaket dan itu juga jaket himpunan yang sedang aku pakai.

“Wah, makasih banget, Mas…”

Selesai makan aku kasih jaket himpunan yang dulu kudapatkan dengan susah payah selama masa ospek 1 tahun. Aku tak tahu, kenapa malam itu aku begitu ikhlas memberikan jaket itu ke mas tukang nasgor. Mungkin karena terlalu senang bisa mempraktikan metode investigasi seorang agen intelijen…

Jadi,  kamu jangan heran apabila suatu malam melihat ada tukang nasi goreng berkeliling dengan mengenakan jaket birunya himpunan HMFT…Orang yang nggak tahu mungkin akan berfikir, tukang nasgornya keren banget: anak Fisika Teknik :D

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Misi #1 part 3 (Final)

Ini adalah final cerita Misi #1 ku. Akhirnya aku menyampaikan kepada de Kongkol kalau aku tak mau mencari bocoran soal UAS Fismod. “Misi itu sangat jorok, mending kita belajar bareng di tempatnya master Arief!”Dan de Kongkol pun sepakat.

Perlu kamu ketahui bahwa di ITB ada 3 golongan mahasiswa: 1. Nasakom, ini golongan akademis ancur; 2. golongan tak bernama, ini golongan mahasiswa dengan kemampuan biasa-biasa saja; 3. Master, ini golongan dengan kemampuan akademis tingkat dewa. Arief adalah salah satunya di angkatan kami.

Akhirnya malam menjelang UAS Fismod, aku dan de Kongkol belajar sampai nginep di kostan Arief di Taman Hewan (ini bukan kebon binatang, tapi memang persis di sebelah kebon binatang).

UAS jam 9, tapi dengan penuh semangat aku dan de Kongkol sudah sampai di Kampus jam 8. Mau diskusi resume hasil belajar semalam. Kami nongkrong di teras plaza TF yang menghadap Jurusan Biologi.

Tanpa sengaja mataku menangkap pemandangan yang luar biasa. Beberapa meter di depan sana, di selasar Biologi ada seorang mahasiswi yang sedang mengobrol dengan kelompoknya dengan posisi duduk yang aduhai. Karena dia memakai rok cukup pendek, maaf, CD-nya kelihatan. Saya teringat hadist Rasul, tapi saat itu keimanan saya sedang di taraf bawah: sangat sayang untuk melewatkan…Sampai kemudian salah satu de Kongkol mengingatkan, “5 menit lagi ujian mulai euy. Hayuu ka kelas!”

Setelah soal dan lembar jawaban dibagikan, pikiranku masih terpaut pada pemandangan barusan. Otak menjadi blank. Hasil belajar semalaman sirna. Tak satu pun soal yang bisa aku kerjakan!

Hasilnya: Semua anggota de Kongkol lulus meski dengan nilai C. Sedangkan aku mendapat nilai yang luar biasa: E. Ini E pertamaku, gara-gara pemandangan aduhai itu…

 

 

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Superposisi

Dari asrama aku buru-buru mengejar kuliah jam 7: Fenom – Fenomena Gelombang. Sampai ruang GKU lama jam 7 lebih 6 menit. Aku langsung nyelonong masuk kelas yang sudah dimulai.

Setelah duduk aku jadi bingung kok dosennya nggak familier. Tengok kanan kiri nggak ada yang kenal. Orang yang di sebelahku juga menampakkan mimik aneh. Aku baru tersadar kalau salah masuk ruang kuliah. Aku segera bangkit dari kursi dan dalam hitungan detik ruang kelas menjadi riuh dengan tepuk tangan dan tawa. Pak Dosen bertanya bingung, “Ada apa?”

“Maaf, Pak, saya salah masuk kelas,” sahut saya sambil ngeloyor keluar.

Perlu kamu ketahui, ruang kuliah GKU memang sering menjebak seperti labirin, apalagi kalau sedang terburu-buru. Tapi dari kejadian itu aku terinspirasi dengan teori dalam Fisika Modern: Superposisi partikel! Sepertinya asyik kalau bisa berada di dua kelas berbeda secara bersamaan!

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment