Dona Blusukan

Sudah beberapa kali aku melihat Dona sedang berjalan-jalan di bilangan Juanda (Dago). Aku jadi kepikiran, gerangan apa yang membuat Dona tertarik untuk berada di area tersebut alih-alih berada di kampus ITB: Apakah deretan Factory Outlet lebih menarik dibanding bangunan kelas dan laboratorium? Apakah kehidupan kampus sekarang kurang greget? Apakah pergerakan mahasiswa sudah tidak menarik lagi untuk diawasi?

Terbersit juga di pikiranku, apakah ini efek dari populernya blusukan Jokowi. Sampai-sampai Dona juga ikut blusukan…Hanya Tuhan dan Dona yang  tahu jawabannya.

Sudah ah, kerja! kerja! kerja!, eh salah ding pikir dulu! baru kerja!

Posted in Selepas Kuliah | Leave a comment

CIA dari ITB

Setelah sekian lama edat-edit, tulisan saya tentang si Angus sepertinya sudah di ujung final. Atas saran ahli marketing, judulnya saya rubah agar lebih menjual: CIA dari ITB. CIA ini bukan Central Intelligence Agency. Bukan pula Catatan Indah Angus seperti nama blog ini. Tapi Catatan Insinyur Angus. Ini sedikit preview-nya: CIA dari ITB

Posted in Buku CIA | Leave a comment

Fisika Fengshui

“Naga Hijau sedang bahagia, ia terbang di atas awan. Nasib baik datang terus menerus,segala sesuatunya berjalan lancar” (Puisi Tiongkok)

Akhirnya aku memilih mengerjakan Tugas Akhir di Laboratorium Teknik Kondisi Lingkungan (TKL). Laboratorium ini masuk dalam rumpun Kelompok Keahlian Fisika Bangunan. Hal yang membuatku memilih laboratorium ini karena trac record sebagian besar Tugas Akhir mahasiswanya berkaitan dengan pembuatan hardware. Menurutku ini MacGyver banget.

Sebenarnya inti dari Fisika Bangunan adalah utilisasi Fisika dalam rangka menjadikan bangunan yang berpredikat nyaman dan hemat energi. Nyaman dari 3 aspek, yakni tata udara, tata cahaya dan tata suara.

Fisika Bangunan ini bukan merupakan mata pelajaran yang klasik dan memang di Indonesia baru populer di tahun 50-an, diajarkan di Fisika Teknik, Arsitektur, Sipil, teknik Penyehatan (sekarang Teknik Lingkungan), Elektro dan Seni Rupa (interior). Namun, Fisika Bangunan sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang. Setiap daerah memiliki kearifan lokal terkait Fisika Bangunan. Salah satu  kearifan lokal Fisika Bangunan tertua dan terdokumentasi dengan baik sampai sekarang adalah Feng Shui.

Secara harfiah Feng Shui berarti angin dan air. Secara maknawi, Fengshui adalah seni bertempat tinggal dalam keharmonisan dengan alam. Logika bahwa Feng Shui yang baik akan membawa kemakmuran adalah dengan perhitungan tempat tinggal yang harmonis dengan alam, seseorang akan memperoleh keamanan, kenyamanan dan kesehatan yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas  yang berujung pada kemakmuran. Contohnya, rumah tusuk sate, secara logika memang berbahaya, karena berpotensi terjadi kecelakaan di depan rumah akibat kendaraan yang ngebut. Aliran sungai atau kolam yang memeluk rumah, selain akan memberikan humiditas yang bagus juga akan membawa rasa nyaman bagi penghuninya.

Di dalam Fisika Bangunan, besaran-besaran yang penting aspek tata udara adalah suhu udara, suhu dinding-dinding (suhu radiasi), kelembaban udara relatif, kecepatan gerakan dan kemurnian udara atau kebersihan  udara.  Di Feng Shui besaran-besaran tersebut hakikatnya diperhatikan melalui perhitungan letak bangunan yang memiliki chi (energi) bagus. Idealnya lokasi terletak dalam formasi Naga dan Macan Bersatu. Lokasi tersebut memiliki sirkulasi udara yang bagus.

Untuk aspek tata suara, yang diperhatikan isolasi terhadap bunyi, standardisasi, pengendalian bunyi gangguan dan akustik ruangan. Di Feng Shui hal tersebut diperhatikan melalui tanaman luar sebagai pemecah kebisingan, desain bangunan yang menghindari sudut tajam sehingga mengurangi potensi cacat akustik, serta pemilihan bahan bangunan.

Untuk aspek tata cahaya, Fisika Bangunan menitikberatkan pada “design sky”, yakni perencanaan banyaknya cahaya yang tersedia di dalam ruangan atas penerangan  yang diberikan oleh terang langit.  Menurut aturan umum Feng Shui, sebuah rumah harus didisain terang dan segar, tidak gelap dan sumpek. Ruangan yang gelap menyebabkan Ch’i diam.

O iya, untuk urusan Feng Shui ini saya mesti berterima kasih banyak kepada master Irin…

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Masa Kuliah | Leave a comment

Oo, Fisika…

Rambut Sama Hitam, Hati Masing-Masing Berlainan (Peribahasa Melayu)

Saat ini di Indonesia hanya ada 5 universitas/institut yang menyelenggarakan jurusan Fisika Teknik (FT). Meski memiliki nama yang sama dan kesamaan dalam beberapa hal, tapi tentu saja ada sesuatu yang berbeda. Hal ini terkait luasnya cakupan bidang keilmuan FT.

FT ITB adalah kakaknya FT di Indonesia. Lahir pada 1959, yang merupakan kelanjutan dari Natuurkundig Ingenieur Afdeling, Technische Hoogeschool (TH) yang berdiri sejak 1949. Pada dekade 50-an, FT ITB mengukuhkan dirinya di dua bidang frontier yakni Fisika Bangunan & Teknik Kondisi Lingkungan serta Instrumentasi & Pengukuran. Dua bidang yang dominan itu tak lepas dari peran tokoh pendirinya, yakni Prof. Adhiwijogo yang merupakan insinyur sipil dan pak Rachmad Mochamad yang merupakan insinyur instrumentasi yang aktif di Lembaga Instrumentasi Nasional – LIPI. Berdasarkan kurikulum yang ada, core dari FT ITB saat ini  adalah instrumentasi dan pengukuran.

Adik pertamanya adalah FT ITS yang lahir pada 1965. Core FT ITS adalah instrumentasi. Hal tersebut tak lepas dari sejarah pendirian FT ITS yang diharapkan bisa memasok insinyur bagi industri-industri petrokimia yang sedang dikembangkan waktu itu. Dan ada satu sosok pendiri FT ITS yang sedikit banyak telah meletakkan jejak instrumentasi di FT ITS, yakni pak Soewarso, lulusan FT ITB ‘61.

Adik keduanya adalah FT Universitas Nasional (Unas) yang lahir pada 1980-an (Mohon teman-teman FT Unas bisa membagi info detil sejarah pendirian). Berdasarkan profil program konsentrasinya, saya melihat ada keterkaitan yang erat antara FT Unas dan FT ITB. Salah satu motor FT Unas adalah pak Ajat Sudrajat (S2 Instrumentasi & Kontrol FT ITB ’95). Jadi saya coba simpulkan bahwa core FT Unas juga di Instrumentasi.

Adik ketiganya adalah FT UGM. Berdasarkan group riset yang ada, sepertinya core FT UGM adalah manajemen energi/energi terbarukan. Core tersebut tak lepas dari sejarahnya yang berawal dari Jurusan Teknik Nuklir. Jurusan Teknik Nuklir lahir pada 1977 dari kolaborasi Fakultas Teknik UGM dan BATAN. Pada 1998, Jurusan Teknik Nuklir melahirkan Prodi Fisika Teknik (FT). Pada 2001, Jurusan Teknik Nuklir berubah nama menjadi Jurusan Teknik Fisika yang memiliki 2 Prodi, yakni Teknik Nuklir dan Fisika Teknik.

Adik termuda adalah FT Telkom University, yang lahir pada tahun 2009. Terus terang saya tidak terlalu paham dengan profil FT Telkom University. Tapi berdasarkan profil di website resminya, sepertinya FT Telkom University memiliki core di Instrumentasi & Kontrol, dengan penekanan tersendiri di bidang ICT.

OKarena hanya berlima saja (untuk ukuran keluarga universitas, jumlahnya relatif sedikit), maka lulusan FT sudah memaklumi ketika berdiskusi dengan orang di luar FT:

Tante: “Gus, kamu itu kuliah jurusan apa sih?”

Agus: “Fisika Teknik, Tante.”

Tante: “Oo, Fisika….”

Posted in Selepas Kuliah | Leave a comment

Selebriti-Selebriti FT

Selebriti: Orang yg terkenal atau masyhur (KBBI)

Mungkin kita sudah tak asing lagi dengan salah satu pembawa berita/acara di Metro TV yang bernama Prabu Revolusi. Wajahnya yang charming dan terlihat intelek sangat membantu popularitasnya. Tapi sepertinya sedikit orang yang tahu kalau dia itu anak Fisika Teknik (FT). Ya, kang Prabu adalah FT  ’98, satu angkatan di atasku. Sewaktu pertama kali melihatnya di layar TV di tahun 2006-an, saya sempat takjub, soalnya dulu di kampus, kang Prabu ini sangat kalem dan boleh dibilang pendiam. Kebetulan waktu itu ada beberapa kelas kuliah yang bareng dengannya. OK, karena popularitasnya, terlebih setelah menikah dengan Zee Zee Shihab, kita bisa sebut dia salah satu selebriti dari FT.

Selebriti FT lainnya adalah pak Achmad Kalla (FT ’71). Beliau adalah adik kandung pak Jusuf Kalla. Beliau adalah selebriti di dunia bisnis, yakni pendiri Bukaka Group. Bakat employer-nya sudah terlihat sejak dari mahasiswa. Sewaktu beliau menjadi Ketua Himpunan (HMFT), beliau sudah meng-hire sekretaris tamatan Akademi Sekretaris.

Selanjutnya adalah pak Fadel Muhammad (FT ’72). Beliau adalah selebriti di dunia bisnis dan politik. Di dunia bisnis, beliau adalah partner pak Achmad Kalla dalam mengembangkan Bukaka Group, di luar kepemilikan group bisnisnya sendiri. Di dunia politik beliau sempat menjadi Gubernur Gorontalo selama dua periode yang kemudian diangkat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2009 – 2011. Sewaktu mahasiswa bakat entrepreneur-nya sudah menonjol. Beliau sebenarnya sudah menjadi selebriti sejak masih kuliah, dengan laporan-laporan perjalanannya keliling kampus Asia bersama pak Erlangga. Yang paling menghebohkan adalah perjalanannya keliling Eropa dengan Mazda 323 bersama pak Erlangga dan pak Achmad Kalla (meski pak Achmad kalla tidak sampai selesai).

Dari ketiga selebriti tadi, memang terlihat bahwa keselebritisannya (bahasanya bener nggak?) tidak didominasi oleh faktor ke-FT-an. Kang Prabu karena intrapreneurship-nya, sedangkan Pak Achmad dan pak Fadel lebih karena  entrepreneurship-nya, meskipun backgroud ke-FT-an berpengaruh dalam pengembangan Bukaka Group, selaku pemain di bidang engineering dan manufacturing.

Untuk selebriti FT yang FT banget mungkin bisa kita lihat pada sosok pak Kusmayanto Kadiman (FT ’73) dan bu Karen Agustiawan (FT ’78). Pak Kuswayanto adalah dosen FT yang kemudian menjadi rektor ITB periode 2001-2004 dan kemudian menjadi Menristek periode 2004 – 2009. Saya pikir beliau memang cocok untuk menjadi Menristek karena cukup memahami dunia riset dan teknologi dengan kapasitasnya sebagai akademisi dan praktisi bisnis berbasis teknologi. Saya masih ingat konsep teknologi yang sering disampaikan olehnya bahwa teknologi adalah perpaduan yang sempurna antara science, teknik, ekonomi dan seni.

Bu Karen Agustiawan adalah Direktur Utama Pertamina sejak 2009. Beliau semakin terkenal akibat  polemik kenaikan LPG kemarin. Baru-baru ini Fortune memasukannya ke dalam Most Powerful Women in Business: The Global 50. Beliau mengawali karier di BPPT, namun hanya sebentar karena suaminya berkarier di BPPT juga. Beliau lalu bergabung dengan Mobil Oil. Setelah sempat vakum untuk fokus mengurus anak, beliau berkarir di perusahaan konsultan migas, sampai kemudian diminta bergabung ke Pertamina. Memang bukan semata-mata karena background FT, beliau menjadi seperti sekarang, tapi juga karena jiwa leadership dan sifat berani yang dimilikinya. Semasa kuliah, bu Karen adalah vokalis group dangdut di kampus. Tarikk Maang!

Seleb FT (2)

Itu saja dulu. Mohon maaf bagi para selebriti FT yang profilnya belum sempat saya ulas….

Posted in Selepas Kuliah | Leave a comment

Sakit Jiwa

Tuhan, aku baru menyadari bahwa aku sakit jiwa

Untuk sekedar mengingatmu

Aku menjadi kehilangan ingatan

Tuhan, aku memang sakit jiwa

Percaya bahwa Engkau ada

Tapi berkelakuan seperti orang tak beragama

Lebih banyak kufur daripada syukur

Lebih banyak maksiat daripada taubat

Tuhan, aku memang sakit jiwa

Untuk sekedar membuat pilihan

Aku menjadi kehilangan akal

Lebih memilih kesenangan dunia yang sementara

Daripada surga dan cinta-Mu yang selamanya

Tuhan, inilah hamba-Mu yang sakit jiwa

Si pandir yang merasa pintar

Si kerdil yang merasa besar

Kini, tersungkur di hadapan-Mu

Memohon ampunan-Mu sungguh

Sungguh…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Orang-Orang Sakit Jiwa di Kampus

Menurutku, kampus di Indonesia yang paling banyak memiliki orang sakit jiwa adalah ITB. Kalau tidak mau disebut sebagai orang-orang sakit jiwa, mungkin bisa disebut orang-orang dengan kepribadian aneh. Aku menduga, hal itu ini berhubungan erat dengan kondisi IQ – EQ tertentu, di mana mereka adalah orang-orang dengan IQ yang tinggi namun memiliki masalah dalam EQ. Tapi aku juga tidak yakin pasti. Sepertinya memang ada kecenderungan di mana orang-orang berbakat genius lebih dekat dengan kepribadian aneh. Banyak ilmuwan dan filsuf besar yang memiliki kesamaan berkepribadian aneh, seperti Rene Descrates, Ludwig Wittgenstein, Imanuel kant, Thorstein Veblen, Isaac Newton dan Albert Einstein. Mereka sama-sama soliter. Sepertinya memang temperamen yang emosional, suka menyendiri, lebih berpusat ke dalam bisa kondusif untuk kreativitas ilmiah.

DonaOrang-orang itu mungkin lebih tepat menyimpan gejala skizoid, di mana ciri utamanya mengisolasi diri, acuh tak acuh terhadap perasaan orang lain dan sering merasa gagal atau tidak berarti. Untuk sebagian besar orang, untuk mendapatkan arti dan makna hidup, diperoleh melalui interaksi dengan banyak orang. Tapi tidak bagi pemilik gejala skizoid, mereka bekerja kreatif secara soliter untuk mengekspresikan dirinya. Mereka cenderung masuk ke dalam kegiatan-kegiatan soliter yang sering bersifat mekanik, ilmiah, futuristik dan tidak terkait dengan perkara manusia. Uniknya orang-orang dengan gejala tersebut jarang terjatuh sampai mencapai kondisi gangguan kejiwaan yang parah. Sepertinya kreativitas memang obat dan pelindung dari sakit jiwa parah. Jadi cuma setengah-setengah.

Aku mengenal orang-orang seperti itu di kampus. Salah satunya adalah teman dari kakak angkatanku di Departemen Sipil. Anak ini memang cerdas, siswa teladan dari Jakarta. Prestasi akademik di kampus juga cemerlang. Sampai satu waktu, ia memperoleh nilai D di satu mata kuliah. Tak berapa lama setelah kejadian itu, ia menampakkan gejala-gejala yang aneh. Ia suka berlama-lama di telepon umum di depan kampus. Ia seperti sedang menelepon seseorang dengan serius. Teman-temannya pernah menguping pembicaraan teleponnya. Ternyata oh ternyata, ia sedang menelepon bung Karno. Mungkin ia sedang bertukar pikiran dengan seniornya, karena memang bung Karno adalah lulusan Teknik Sipil zaman Belanda…

Referensi: A Beautiful Mind

Posted in Masa Kuliah | 8 Comments